Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
18 Tahun Jodoh Boulevard, Janji Revitalisasi Hingga Kunjungan Wamen
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Sabtu, 10 Januari 2026 19:28 WIB
BATAMTODAY.COM, Batam - Kawasan Jodoh pernah menjadi denyut nadi Batam. Pada era 1980-an hingga 1990-an, kawasan ini adalah barometer kota, tempat bertemunya perdagangan, hiburan, dan geliat ekonomi. Bahkan memasuki awal 2000-an, Jodoh masih memancarkan daya tarik sebagai salah satu wajah utama Batam. Namun waktu berjalan, dan kejayaan itu perlahan memudar.
Pada 1 September 2007, Pemerintah menggagas pembangunan Jodoh Boulevard. Proyek ini digadang-gadang sebagai ikon baru Batam, meniru kesuksesan Bugis Street di Singapura. Anggaran besar digelontorkan dari APBD. Harapannya sederhana namun ambisius yang menghidupkan kembali kawasan tua dengan wajah modern. Namun hampir dua dekade berlalu, harapan itu tak pernah benar-benar tiba di tujuan.
Alih-alih menjadi magnet wisata dan ekonomi, Jodoh Boulevard justru menjelma ruang tanpa manfaat. Bertahun-tahun kawasan ini lebih dikenal sebagai tempat tongkrongan tuna susila, preman, dan gelandangan. Fungsi sosial dan ekonominya menguap, meninggalkan kesan kumuh yang kontras dengan narasi pembangunan yang kerap disuarakan pemerintah.
"Kondisinya tidak pernah benar-benar hidup," keluh warga sekitar.
Jodoh Boulevard seolah menjadi monumen bisu dari proyek yang selesai secara fisik, namun gagal secara fungsi.
Pada September 2017, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau kembali turun tangan. Dengan anggaran sekitar Rp 3,2 miliar, kawasan Taman Jodoh Boulevard dibersihkan dan ditertibkan. Pedagang kaki lima (PKL) dipindahkan, area diratakan, dan janji baru kembali diucapkan.
Wali Kota Batam saat itu, Muhammad Rudi, bahkan memimpin langsung gotong royong pembersihan pada 6 September 2017. Ia menyatakan taman tersebut akan disulap menjadi pusat kuliner modern dengan desain khusus milik Pemko Batam.
"Intinya, lokasi ini akan kita hidupkan kembali," ujar Rudi kala itu.
Sebanyak 11 OPD diterjunkan. Camat dan lurah ikut dilibatkan. Secara seremonial, penataan tampak serius.
Namun waktu kembali membuktikan hal lain. Memasuki Februari 2018, Pemko Batam mengakui keterbatasan fiskal. Penataan ulang Jodoh Boulevard, kata Rudi, tak bisa dilakukan tanpa pihak ketiga.
"Kita tidak punya anggaran. Harus kerja sama dengan investor," ujarnya, Selasa (20/2/2018).
Konsep tetap dari pemerintah, pedagang non permanen diperbolehkan, kawasan akan diberi atap. Tapi rencana itu kembali menggantung, menunggu investor yang tak kunjung datang.
Empat tahun setelah penertiban, tepatnya 27 Februari 2021, Jodoh Boulevard kembali dipenuhi PKL. Bahkan jumlahnya disebut lebih banyak dibanding sebelum ditertibkan.
Pantauan di lokasi menunjukkan puluhan lapak pakaian bekas dan kuliner berdiri dari pagi hingga malam. Kawasan yang dulu dibersihkan kembali semrawut. "Jumlah pedagang sekarang lebih banyak dari dulu," ujar Rizpa, warga yang rutin berbelanja di kawasan itu.
Andi, salah satu pedagang, mengaku sudah dua tahun berjualan di sana setelah ditertibkan dari depan Pasar Tos 3000 dan Ramayana. Tak ada pilihan lain. "Kami nggak punya modal sewa tempat. Apalagi sejak pandemi, jualan makin sepi," katanya.
Jodoh Boulevard kembali menjadi ruang bertahan hidup, bukan ruang yang ditata.
Seorang warga Nagoya yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup di kawasan Jodoh menyampaikan nada pesimis. Ia menilai pembangunan Jodoh Boulevard lebih sering menjadi ladang proyek ketimbang solusi ekonomi.
"Gaungnya sudah dari dulu. Dari zaman Wali Kota Ahmad Dahlan sampai Muhammad Rudi. Dianggarkan, dikerjakan, tapi manfaatnya tidak kami rasakan," ujarnya. Menurutnya, kawasan itu justru semakin kumuh, berbanding terbalik dengan acara seremonial dan rilis keberhasilan pemerintah.
Meski demikian, ia masih menyimpan harapan pada kepemimpinan Wali Kota Amsakar Achmad, terlebih setelah pemerintah pusat mulai turun langsung.
Harapan Baru dari Pusat
Harapan itu menguat pada Jumat, 9 Januari 2025, saat Wakil Menteri UMKM RI, Helvi Yuni Moraza, meninjau langsung kawasan Tanjung Pantun, Jodoh. Kunjungan ini menjadi bagian dari rencana besar penataan New Nagoya oleh BP Batam dan Pemko Batam.
Helvi menegaskan, penataan bukan penggusuran, melainkan revitalisasi dengan menjaga sejarah dan keberlangsungan UMKM. "Kawasan Jodoh punya nilai strategis dan historis. Ini tidak boleh hilang," ujarnya.
Pedagang lama seperti Harsono, yang beraktivitas sejak 1986, meminta penataan dilakukan adil dan tepat sasaran. Pendataan pedagang menjadi kunci.
"Jangan sampai yang hidup di sini tersingkir," katanya.
Helvi menegaskan bahwa kehadirannya merupakan bentuk dukungan konkret Kementerian UMKM terhadap upaya menjadikan Batam sebagai pusat perdagangan dan destinasi wisata belanja nasional. Menurutnya, kawasan Jodoh memiliki nilai strategis dan historis yang perlu dilestarikan.
"Kami mendukung penuh langkah BP Batam dan Pemko Batam menjadikan Batam sebagai pusat investasi dan wisata belanja nasional tanpa menghilangkan budaya serta sejarahnya. Kawasan Jodoh memiliki peran penting dalam perjalanan Batam," kata Helvi.
Ia menekankan bahwa revitalisasi kawasan tidak boleh dimaknai sebagai penggusuran. Para pedagang dan pelaku UMKM, lanjutnya, tetap beraktivitas di lokasi yang sama, namun dengan penataan yang lebih rapi, bersih, dan nyaman bagi pengunjung.
"Revitalisasi bukan penggusuran. Pedagang tetap berada di sini, tetapi kawasan ditata agar lebih menarik dan mampu mendorong pertumbuhan UMKM," tegasnya.
Helvi juga menyoroti pentingnya dialog dan sosialisasi sejak tahap awal. Pemerintah akan melibatkan para pedagang dalam pembahasan konsep penataan, skema pembiayaan, serta pendampingan usaha.
"Skema pembiayaan sudah tersedia, mulai dari ultra mikro hingga mikro. Untuk usaha kuliner, misalnya, pembiayaan ultra mikro bisa di bawah Rp 15 juta. Semua akan kita diskusikan bersama agar UMKM tumbuh secara berkelanjutan," ujarnya.
BP Batam melalui Deputi Infrastruktur Mouris Limanto menyatakan penataan masih tahap awal dan akan melibatkan APKLI. Konsep walkable city dalam pengembangan New Nagoya diharapkan menghidupkan kembali kawasan Jodoh sebagai ikon wisata belanja.
Mouris Limanto menegaskan bahwa penataan kawasan Jodoh masih berada pada tahap awal dan belum mengarah pada penertiban pedagang kaki lima. "Penertiban PKL belum sampai ke tahap itu. Saat ini masih tahap inisiasi dan akan melibatkan APKLI. Prinsipnya, kita bekerja bertahap dan nyata," ujar Mouris.
Ia mengakui pendataan jumlah pedagang masih terus dilakukan. Namun, kehadiran Wakil Menteri UMKM disebutnya sebagai sinyal kuat bahwa penataan kawasan Jodoh akan dijalankan secara serius dan berkelanjutan.
"Kehadiran Pak Wamen menunjukkan komitmen pemerintah. Namun, penataan ini tidak bisa dikerjakan sendiri, seluruh pemangku kepentingan harus terlibat," tegasnya.
Ke depan, kawasan Tanjung Pantun Jodoh (ditengahnya dulu ada Jodoh Boulevard) direncanakan ditata menyerupai pedestrian mall terbuka dengan zonasi khusus kuliner, fesyen, dan oleh-oleh. Fasilitas parkir akan disiapkan, lingkungan diperbaiki, serta pelibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam setiap tahapan penataan.
"Kami ingin masyarakat tetap hidup dan beraktivitas di sini. Lingkungannya yang kita benahi. Soal bangunan mana yang direnovasi atau dipertahankan, akan dibahas bersama," pungkas Mouris.
Delapan belas tahun sejak digagas, Jodoh Boulevard masih berjalan di tempat. Ia menyimpan jejak ambisi, gagasan misterius, proyek berulang, dan janji yang silih berganti. Kini, harapan kembali dititipkan pada kolaborasi Pusat dan Daerah (Pemko dan BP Batam). Apakah kali ini Jodoh benar-benar akan tiba di tujuan atau kembali menjadi boulevard yang hanya indah di atas kertas, biarlah waktu yang akan menjawab.
Editor: Yudha
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
