Logo

Cari berita

Cari artikel terbit. Mulai mengetik minimal dua karakter.

CBC Kwarcab Lingga Pilih Hiasi Mobil Ketimbang Ugal-ugalan

Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali

Sabtu, 16 Juni 2018 10:04 WIB
Mobil hias CBC Kwarcab Lingga pada malam takbiran berhasil raih juara III. (Foto: Nurjali)
Mobil hias CBC Kwarcab Lingga pada malam takbiran berhasil raih juara III. (Foto: Nurjali)

BATAMTODAY.COM, Dabosingkep - Cikal Bertuah Commnunity (CBC), komunitas yang tergabung dalam anak-anak lintas sekolah di Pulau Singkep, lebih memilih menghias kendaraan dengan membuat replika masjid berkonsep Melayu dan Timur Tengah, ketimbang ugal-ugalan di jalan saat merayakan 1 Syahwal 1439 H.

Komunitas ini awalnya dibentuk sebagai wadah untuk mengembangkan potensi di bidang perfilman, fotografi dan kelas jurnalistik. Melihat fenomena malam takbiran yang selalu dimanfaatkan, oleh anak-anak muda untuk kebut-kebutan sambil menggeber kendaraannya membuat anak-anak ini berinisiatif memilih konsep yang lebih positif.

Pada malam takbiran 1 Syawal 1439 H kemarin sedikitnya ada ribuan kendaraan roda dua, dan hampir separuhnya ini diisi anak-anak muda yang kebut-kebutan dan menggeber kendaraan saat malam takbiran. Tak jarang terjadi gesekan dalam kompoi tersebut, sehingga menganggu kekhusyuykan masyarakat yang benar-benar ingin menjalankan ibadah.

Salah satu anggota komunitas, Winda mengatakan kegiatan ini dibuat berdasarkan ide bersama rekan-rekan komunitasnya, tujuannya hanya ingin melampiaskan kreatifitas yang dimiliki untuk menjadi ide yang kreatif.

Alhasil kelompok ini dengan menggandeng Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Lingga, sebagai salah satu sponsor berhasil mengantarkan komunitas ini meraih juara tiga pada malam tersebut, meskipun baru pertama kali ikut.

"Sebenarnya hanya ingin meramaikan dan mempromosikan sponsor kami sebagai wadah pembinaan generasi muda, tetapi ternyata malah dapat juara," sebutnya santai, Jumat (15/6/2018).

Konsep antara ukiran Melayu dengan Timur Tengah tersebut, tentulah tidak mudah dibuat karena terlihat megah. Dari sisi materi tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Namun berbeda dengan kenyataanya saat ditemui beberapa anggota komunitas, mereka mengaku jika konsep tersebut dibuat dengan biaya yang sangat murah karena sebagian besar bahan-bahannya diambil dari barang-barang bekas.

Konsep menggunakan barang bekas tersebut tentu bukanlah sesuatu yang kebetulan, karna beberapa anggota komunitas lintas sekolah ini memiliki keterampilan dibidangnya masing-masing mulai dari kaligrafi, dan ada juga yang merupakan anggota dari Asosiasi Karnaval Indonesia yang memang terbiasa dengan mengelola barang bekas menjadi nilai seni yang tinggi.

Editor: Gokli

Bagikan:

Berita Lainnya

Belum ada berita lain untuk ditampilkan.

Berita Terbaru

Berita tidak ditemukan