Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Di Balik Label Susu, UHT Berperisa dan Kental Manis Jadi Sumber Gula Tersembunyi Anak
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Jumat, 19 Desember 2025 15:08 WIB
BATAMTODAY.COM, Batam - Konsumsi minuman manis pada anak usia sekolah terus menunjukkan tren peningkatan. Ironisnya, sejumlah produk yang selama ini dipersepsikan sebagai minuman bergizi, seperti susu UHT berperisa dan susu kental manis, justru menjadi sumber gula tersembunyi yang kerap luput dari perhatian orang tua.
Produk-produk tersebut masih sering dikonsumsi sebagai minuman harian anak karena melekat pada citra susu yang identik dengan kesehatan. Padahal, kandungan gula tambahan di dalamnya tergolong tinggi, terutama jika dikonsumsi secara rutin dalam jangka panjang.
Berbagai kajian kesehatan menunjukkan bahwa minuman merupakan kontributor utama asupan gula tambahan pada anak dan remaja. Susu UHT berperisa, yang mengandung gula dan perisa tambahan, sering kali tidak diperlakukan sebagai minuman manis karena masih dikategorikan sebagai susu.
Persepsi tersebut semakin menguat melalui strategi pemasaran yang menonjolkan narasi pertumbuhan, energi, dan kesehatan. Selain itu, penempatan produk di rak penjualan yang berdampingan dengan susu tanpa gula tambahan turut memperkuat anggapan keliru di kalangan konsumen.
Dokter Novi Indriastuti dari Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa minuman menjadi penyumbang terbesar asupan gula pada kelompok anak dan remaja. "Asupan gula tambahan paling banyak berasal dari minuman," ujar dr Novi dalam Webinar Series UKS/M: Penguatan Edukasi Gula, Garam, Lemak untuk Wujudkan Peserta Didik Sehat, Jumat (12/12/2025).
Ia menekankan pentingnya pengendalian konsumsi minuman bergula sejak usia sekolah, termasuk susu UHT berperisa yang kerap dianggap aman untuk dikonsumsi setiap hari.
Persoalan menjadi lebih serius pada konsumsi susu kental manis. Produk ini masih sering disalahartikan sebagai susu minum anak, padahal kandungan gulanya jauh lebih tinggi dan tidak dirancang sebagai minuman harian.
Dalam praktiknya, susu kental manis masih diminum langsung, dicampur air, atau menjadi bagian dari konsumsi rutin anak di rumah maupun lingkungan sekitar. Dalam konteks pengendalian gula, produk ini dinilai berada pada kategori paling berisiko.
Pakar gizi komunitas, dr. Tan Shot Yen, menilai kebingungan publik tidak terlepas dari cara produk diproses dan dipasarkan sebagai pangan bergizi. Ia pernah membandingkan segelas susu UHT berperisa stroberi dengan porsi lemper.
"Keduanya sama-sama mengandung sekitar enam gram protein. Namun, kandungan susu dalam minuman UHT berperisa hanya sekitar 7,8 persen, berasal dari susu bubuk yang dilarutkan kembali dan ditambah berbagai bahan tambahan," jelasnya.
Sebaliknya, menurut dia, makanan tradisional seperti lemper memiliki komposisi bahan yang lebih sederhana dan minim proses. Data menunjukkan sekitar 11 persen asupan kalori anak dan remaja berasal dari minuman bergula. Konsumsi satu kemasan minuman manis per hari bahkan dapat meningkatkan risiko obesitas anak hingga 60 persen.
Di tingkat nasional, sekitar 28,7 persen masyarakat Indonesia tercatat mengonsumsi gula melebihi batas anjuran. Pada anak usia sekolah, ambang batas aman konsumsi gula harian kerap terlampaui hanya dari minuman.
Para ahli menilai, ketika produk tinggi gula terus dipersepsikan sebagai "susu" yang identik dengan kesehatan, tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.
Kejelasan informasi pada label gizi, pembatasan narasi pemasaran yang menyesatkan, serta penempatan produk sesuai fungsi nutrisinya dinilai menjadi tanggung jawab bersama antara industri, pembuat kebijakan, dan pengelola program kesehatan.
Tanpa upaya koreksi yang serius, anak-anak dikhawatirkan akan terus menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak jangka panjang konsumsi gula berlebih.
Editor: Gokli
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
