Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Donasi Pakaian Warga Bintan Tiba di Aceh Tamiang, Relawan Soroti Kendala Birokrasi
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Selasa, 23 Desember 2025 09:28 WIB
BATAMTODAY.COM, Bintan - Aksi kemanusiaan pengumpulan donasi pakaian layak pakai yang digagas warga Kecamatan Seri Kuala Lobam, Bintan Utara, dan Teluk Sebong akhirnya membuahkan hasil. Setelah melalui berbagai kendala dan tantangan, bantuan tersebut berhasil tiba dan disalurkan kepada warga terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang, Senin (22/12/2025).
Salah satu penggerak bantuan, Riono, warga Desa Teluk Sasah, mengatakan bantuan berupa sekitar 50 karung pakaian layak pakai sejatinya ditargetkan sampai ke lokasi penerima pada 19 Desember 2025. Namun, sejumlah hambatan di lapangan menyebabkan distribusi mengalami keterlambatan.
"Karena adanya beberapa kendala, bantuan baru bisa sampai di Pelabuhan Belawan pada Minggu (21/12/2025). Selanjutnya, bantuan diangkut menggunakan truk relawan dari Medan langsung menuju Kabupaten Aceh Tamiang," ujar Riono kepada BATAMTODAY.COM.
Setibanya di Kecamatan Rantau, bantuan kemanusiaan tersebut langsung didistribusikan ke delapan titik, yakni Desa Jamur Jelatang, Desa Benua Raja, Kampung Duren, Desa Karang Baru, Rantau, Jamur Labu, Suka Rahmat, dan Suka Rakyat. Seluruh lokasi berada di wilayah Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang.
Riono menuturkan, antusiasme warga setempat sangat tinggi saat menerima bantuan. Menurutnya, pakaian layak pakai tersebut memang sangat dibutuhkan, tidak hanya oleh masyarakat terdampak bencana, tetapi juga para relawan di lapangan.
"Alhamdulillah, warga Kecamatan Rantau sangat antusias. Bantuan ini benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat, termasuk para relawan," katanya.
Ia juga mengungkapkan, proses penyaluran bantuan tidak berjalan semudah yang dibayangkan. Meski niat para donatur tulus untuk meringankan beban korban bencana, berbagai prosedur dan kendala administratif kerap menghambat kelancaran distribusi.
"Di lapangan, pemahaman kami sebagai warga biasa ternyata tidak selalu sejalan. Padahal bantuan ini murni atas panggilan kemanusiaan untuk membantu saudara-saudara yang tertimpa bencana," ucapnya.
Riono menyebut, dokumen pendukung seperti foto, video, hingga pengesahan dari aparat setempat, termasuk kepala desa, camat, dan kapolsek, telah dilengkapi. Namun, hal tersebut dinilai belum cukup mempermudah proses di sejumlah titik.
"Bahkan tanda tangan camat dan kapolsek beserta stempel tidak selalu dianggap. Di sini terlihat, kepekaan sosial seolah hanya dimiliki warga kecil, bukan para pemegang kebijakan," tuturnya.
Hal senada disampaikan Alexander, salah satu koordinator pengumpulan donasi pakaian layak pakai. Ia menjelaskan, penggalangan bantuan warga Bintan untuk Aceh Tamiang telah berjalan sebelum adanya surat edaran resmi dari pemerintah terkait mekanisme penyaluran bantuan.
"Surat edaran memang mengharuskan melalui dinas dan instansi terkait, tetapi pengumpulan donasi ini sudah berlangsung sebelumnya," kata Alexander.
Ia menambahkan, hampir di seluruh pelabuhan yang dilalui, distribusi bantuan tidak berjalan mulus. Keterlambatan paling signifikan terjadi di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, yang menyebabkan pengiriman tertahan selama beberapa hari.
"Kendala utamanya adalah sulitnya komunikasi antarinstansi. Bahkan, sering terjadi saling lempar tanggung jawab dengan alasan aturan dan ketentuan, tanpa mengedepankan nilai kemanusiaan," ujarnya.
Meski demikian, Alexander bersyukur bantuan akhirnya dapat diterima oleh masyarakat Aceh Tamiang. Ia berharap ke depan para pemangku kebijakan dan instansi terkait tidak hanya berpegang pada aturan, tetapi juga mengedepankan empati dan rasa kemanusiaan.
"Setidaknya, harapan warga Bintan yang telah mempercayakan donasinya sudah tersampaikan. Semoga ke depan, kepedulian kemanusiaan bisa berjalan seiring dengan regulasi," pungkasnya.
Editor: Gokli
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
