Logo

Cari berita

Cari artikel terbit. Mulai mengetik minimal dua karakter.

Jembatan Desa Marok Tua Putus, Masyarakat Gunakan Sampan untuk Menyeberang

Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali

Kamis, 5 November 2020 18:04 WIB
Camat Singkep Barat, Febrizal Taupik menunjukkan kondisi Jembatan Desa Marok Tua yang putus dihantam puting beliung, Kamis (5/11/2020). (Foto: Wandy)
Camat Singkep Barat, Febrizal Taupik menunjukkan kondisi Jembatan Desa Marok Tua yang putus dihantam puting beliung, Kamis (5/11/2020). (Foto: Wandy)

BATAMTODAY.COM, Lingga - Angin puting beliung menghancurkan jembatan penyebrangan Desa Marok Tua, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, beberapa waktu lalu.

Hal ini mengharuskan masyarakat menggunakan sampan atau pompong untuk menyeberang, dengan biaya Rp 2.000 untuk sekali penyeberangan.

Untuk merehab jembatan kayu yang hancur dihantam puting beliung tersebut tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Pasalnya jembatan penyeberangan yang dibangun Pemerintah Provinsi Kepri saat ini masih belum selesai dikerjakan.

Kepala Desa Marok Tua, Safarudin mengatakan, untuk merehab jembatan tersebut memerlukan biaya yang besar. Namun langkah awal ini bagaimana masyarakat menyeberang tidak membayar.

"Kita lagi mencari sumber dana untuk menggratiskan masyarakat yang berpergian menggunakan sampan atau pompong. Karena mau disambung anggaran kita tidak ada," kata Safarudin, Kamis (5/11/2020).

Di tempat yang sama, Camat Singkep Barat, Febrizal Taupik menyampaikan, angin puting beliung ini merupakan bencana tahunan di Desa Marok Tua. "Pasalnya sudah berapa kali jembatan kayu tersebut hancur," ujar Taupik.

Dijelaskan Taupik, dalam hal ini karena jembatan yang dibangun Provinsi Kepri ini belum terselesaikan. Sebab dalam proses pembangunan ada dua tahapan, otomatis masyarakat Marok Tua yang menggunakan akses jembatan ini merasa perlu adanya bantuan dari pihak-pihak terkait.

"Seperti BNPB, Dinas Perhubungan, Dinas PU dapat segera mungkin memfasilitasi transfortasi yang ada di pelabuhan ini," jelasnya.

Sebab menurut Taupik, di Desa Marok Tua ada sekitar 60 siswa yang keluar masuk melalui jembatan tersebut dan saat ini meraka menggunakan sampan dan pompong otomatis mereka akan menggunakan biaya.

"Alhamdulillah tadi kita sudah duduk bersama Kades akan mencarikan solusi agar masyarakat di sini jangan sampai dikenakan biaya untuk penyeberangan terutama anak sekolah," ucapnya.

"Itulah harapan kami kepada Pemerintah Kabupaten dan Provinsi untuk kiranya cepat tanggap dalam hal ini karena ini ada musibah yang terjadi," tutupnya.

Editor: Gokli

Bagikan:

Berita Lainnya

Belum ada berita lain untuk ditampilkan.

Berita Terbaru

Berita tidak ditemukan