Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Kisah Nakes di Ruang Isolasi Covid-19, Berjuang Melawan Letih Demi Kesembuhan Pasien
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Kamis, 12 Agustus 2021 11:18 WIB
BATAMTODAY.COM, Lingga - Namanya Flaviana Valentia. Dia merupakan salah seorang tenaga kesehatan atau Nakes yang baru saja bertugas di ruang isolasi Covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD Dabo Singkep, Kabupaten Lingga.
Kasus Covid-19 yang terus meningkat belakangan ini, membuat wanita yang akrab disapa Tia ini harus ditugaskan untuk menangani pasien Covid-19. Belum mencapai sebulan, namun ia sering melihat pasien yang berguguran satu demi satu.
Di tengah kesibukannya, wanita berusia 31 tahun ini pun mau membagi kisah pengalamannya di ruang isolasi.
Anak pertama dari tiga bersaudara ini merupakan sarjana lulusan di Universitas Stikes Hang Tuah Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau.
Ia sendiri sudah menjadi seorang Nakes lebih kurang hampir tiga tahun. Dua tahun pengalamannya ia bertugas di Puskesmas Raya, Kecamatan Singkep Barat.
Hampir satu tahun ini, ia telah bekerja di RSUD Dabo Singkep, yang tentunya setahun ini ia telah bekerja di masa pandemi Covid-19.
Akibat kasus Covid-19 yang kian meningkat di Lingga, belum lama ini Tia dan beberapa Nakes yang lain ditugaskan untuk menangani pasien Covid-19 Lingga. Bahkan, dengan pasien yang hampir memenuhi kapasitas ruang rawat isolasi.
Meski terbilang baru, namun pengalamannya dalam menghadapi pasien Covid-19 penuh perjuangan.
Belum lagi dengan harus memakai alat pelindung diri (APD) yang lengkap, cukup mengalami kesulitan baginya bersama rekannya untuk bergerak, makan, minum ataupun aktivitas lainnya saat di ruang isolasi.
Tia juga sering mengunggah kegiatannya saat berada di ruang isolasi, dengan maksud agar masyarakat mengetahui bagaimana pekerjaan dan situasi nakes saat bekerja di ruangan yang penuh dengan pasien Corona itu.
"Sehari bisa ada tiga orang yang meninggal saat kami tangani, dan mereka rata-rata para lansia dengan ada komordbid," ungkap Tia.
Ia menceritakan, beberapa pasien yang dirujuk merupakan pasien yang kondisinya sudah mulai drop.
"Terkadang pasien sudah dalam kondisi tidak baik baru dibawa ke rumah sakit, jadi mendapat penanganan yang lambat. Sehingga dengan kondisi pasien seperti itu, dua atau tiga hari pasien bisa meninggal," ucapnya.
Seringkali ia bersama Nakes menghadapi pasien yang kritis, yang kebanyakan dari mereka mengalami sesak nafas.
Dengan peralatan medis yang memadai dan kesediaan tabung oksigen yang tercukupi, hal itu tak membuatnya terlalu khawatir untuk menangani pasien tersebut.
"Luar biasa capeknya, luar biasa," ungkapnya. "Sedih melihat pasien yang lagi drop, dengar kabar tiba-tiba meninggal itu sedih sih memang."
Namun, dengan dukungan keluarga atau kerabat, ia juga merasa senang beberapa pasien yang berhasil berjuang, sehingga bisa terlepas dari virus tersebut.
Dengan jumlah bed 24 orang di ruang isolasi Covid-19 RSUD Dabo, ia juga pernah menangani pasien dengan hampir memenuhi kapasitas. "Kemarin pernah sampai 20 pasien yang dirawat," sebutnya.
Editor: Yudha
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
