Logo

Cari berita

Cari artikel terbit. Mulai mengetik minimal dua karakter.

KPAI Apresiasi Densus 88 Ungkap Rekrutmen Anak oleh Jaringan Terorisme di Ruang Digital

Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali

Rabu, 19 November 2025 14:28 WIB
Ketua KPAI, Margaret Aliyatul Maimunah. (Humas Polri)
Ketua KPAI, Margaret Aliyatul Maimunah. (Humas Polri)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan apresiasi tinggi kepada Polri, khususnya Densus 88 Antiteror, atas keberhasilan mengungkap praktik rekrutmen anak oleh jaringan terorisme melalui platform digital.

Dalam konferensi pers terkait penanganan kasus tersebut, KPAI menegaskan bahwa langkah cepat Polri bersama BNPT dan sejumlah pemangku kepentingan telah menyelamatkan masa depan ratusan anak di Indonesia.

Ketua KPAI Margaret Aliyatul Maimunah menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti hadirnya negara dalam melindungi anak dari paparan ideologi kekerasan.

"KPAI sangat mengapresiasi kinerja Densus 88, BNPT, dan seluruh pihak terkait. Langkah ini bukan sekadar penegakan hukum, tetapi upaya penyelamatan anak-anak Indonesia dari eksploitasi jaringan terorisme," ujar Margaret.

Dalam paparan Polri, tercatat lebih dari 110 anak di 26 provinsi menjadi korban perekrutan melalui media sosial, permainan daring, dan platform komunikasi tertutup. KPAI memastikan seluruh proses penanganan dilakukan sesuai Undang-Undang Perlindungan Anak serta UU Sistem Peradilan Pidana Anak (UU 11/2012).

Margaret menegaskan bahwa prinsip utama dalam penanganan korban adalah kepentingan terbaik bagi anak, termasuk penerapan mekanisme diversi, keadilan restoratif, pendampingan wajib, dan perlakuan yang manusiawi. "Kami memastikan setiap anak yang terlibat tidak diperlakukan sebagai pelaku, tetapi sebagai korban yang harus dilindungi hak-haknya. Pendampingan psikologis dan hukum menjadi bagian penting dalam proses ini," tegasnya.

KPAI juga menekankan pentingnya penguatan sistem pendukung untuk mencegah radikalisasi terhadap anak. Margaret menjelaskan bahwa keluarga harus menjadi benteng pertama, sementara sekolah dan lingkungan perlu meningkatkan pengawasan.

"Keluarga adalah sistem pendukung utama. Namun sekolah dan masyarakat juga harus hadir. Literasi digital anak perlu diperkuat agar mereka tidak mudah terjebak propaganda ekstrem," ujarnya.

Margaret menambahkan bahwa keberhasilan Polri mengungkap praktik rekrutmen online ini harus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi nasional dalam melindungi generasi muda. "Polri telah melakukan langkah luar biasa. Kini tugas kita bersama memastikan perlindungan berkelanjutan agar anak-anak Indonesia terbebas dari ancaman radikalisasi digital," tutupnya.

Editor: Gokli

Bagikan:

Berita Lainnya

Belum ada berita lain untuk ditampilkan.

Berita Terbaru

Berita tidak ditemukan