Logo

Cari berita

Cari artikel terbit. Mulai mengetik minimal dua karakter.

Merohom Bukit Batu, Jejak Doa dan Tradisi Melayu yang Terus Hidup di Tanah Bintan

Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali

Sabtu, 17 Januari 2026 13:28 WIB
Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan, Ronny Kartika, saat menghadiri Kenduri Merohom Bukit Batu di Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Jumat (16/1/2026). (Foto: Harjo)
Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan, Ronny Kartika, saat menghadiri Kenduri Merohom Bukit Batu di Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Jumat (16/1/2026). (Foto: Harjo)

BATAMTODAY.COM, Bintan - Di antara rimbun pepohonan dan keheningan Bukit Batu, Kompleks Makam Marhum Bukit Batu berdiri sebagai saksi perjalanan panjang sejarah Kerajaan Bentan, yang kini dikenal sebagai Kabupaten Bintan. Setiap tanggal 27 Rajab, suasana sunyi kawasan ini berubah menjadi ruang perjumpaan spiritual dan budaya lewat sebuah tradisi turun-temurun bernama Merohom, atau dikenal pula sebagai Marhom atau Marhum.

Tradisi ziarah tahunan ini bukan sekadar kunjungan ke makam leluhur, melainkan ritual penuh makna yang menyatukan doa, nilai Islam, dan kearifan budaya Melayu. Masyarakat datang dengan membawa nasi kuning, bunga berwarna-warni, serta bunge telo atau bunga telur --telur rebus yang dihias dan disusun dalam jumlah ganjil, seperti lima, sembilan, atau sebelas. Angka-angka ganjil tersebut mencerminkan filosofi Islam yang menjadi sendi utama dalam kehidupan masyarakat Melayu.

Di dalam kompleks makam itu, terdapat enam pusara tokoh penting keluarga Kerajaan Bentan, yakni makam Budayana, Wan Pok (Wan Empuk), Wan Malani, Wan Sri Beni, Tok Telani, serta Tok Hile atau Tok Kelaun. Seluruh area makam dan tradisi di dalamnya dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat setempat, dengan dukungan pemugaran dari Pemerintah Kabupaten Bintan.

Upaya pelestarian tersebut membuahkan pengakuan nasional. Tradisi Kenduri Merohom Bukit Batu resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB) oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia pada 15 Desember 2025. Pengakuan itu menjadi tonggak penting bagi keberlangsungan tradisi Melayu di Bintan.

"Alhamdulillah, tradisi yang penuh nilai historis dan sarat norma luhur Melayu ini telah resmi menjadi Warisan Budaya Tak Benda. Ini semakin menguatkan semangat kita untuk terus melestarikan dan mewariskannya kepada anak cucu. Takkan Melayu hilang di bumi," ungkap Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan, Ronny Kartika, saat menghadiri Kenduri Merohom Bukit Batu di Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, Jumat (16/1/2026).

Ratusan masyarakat tampak memadati area makam, larut dalam doa yang dipimpin oleh Ketua Kampung. Penziarah tidak hanya datang dari wilayah Bukit Batu dan sekitarnya, tetapi juga dari luar daerah seperti Kota Tanjungpinang dan Kota Batam. Kebersamaan itu menghadirkan suasana khidmat, sekaligus mempererat ikatan sosial antarwarga.

Lebih dari sekadar ritual tahunan, Kenduri Merohom Bukit Batu menjadi simbol kuat pelestarian identitas budaya Melayu di tengah arus modernisasi. Tradisi ini juga menyimpan potensi besar sebagai daya tarik wisata, khususnya di sektor wisata budaya dan religi.

Harapannya, Merohom Bukit Batu tidak hanya terus hidup sebagai warisan leluhur, tetapi juga menjadi jendela bagi generasi muda dan wisatawan untuk mengenal kekayaan sejarah, adat, dan spiritualitas masyarakat Bintan --sebuah tanah yang menyimpan pesona alam, budaya, kuliner, hingga jejak peradaban Melayu yang tak lekang oleh waktu.

Editor: Gokli

Bagikan:

Berita Lainnya

Belum ada berita lain untuk ditampilkan.

Berita Terbaru

Berita tidak ditemukan