Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Pasokan Bibit dan Pakan Tersendat, Harga Ayam di Batam Terus Naik Jelang Nataru
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Sabtu, 13 Desember 2025 10:28 WIB
BATAMTODAY.COM, Batam - Harga ayam segar di sejumlah pasar tradisional di Batam terus mengalami kenaikan dalam sekitar sepuluh hari terakhir. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh pedagang, konsumen, hingga pelaku usaha kuliner, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Pantauan di Pasar Botania 1 menunjukkan harga ayam segar kini telah mencapai Rp47 ribu per kilogram. Angka tersebut mengalami lonjakan cukup signifikan dibandingkan awal Desember yang masih berada di kisaran Rp40-42 ribu per kilogram.
Salah seorang pedagang ayam, Putra, mengatakan kenaikan harga terjadi secara bertahap. Ia menyebut, sekitar sepuluh hari lalu harga ayam masih di level Rp40-42 ribu per kilogram, kemudian naik menjadi Rp44 ribu, hingga akhirnya menembus Rp47 ribu dalam dua hari terakhir.
"Kenaikannya pelan-pelan, tapi terus naik. Sekarang sudah Rp47 ribu per kilogram," ujarnya, Sabtu (13/12/2025).
Putra memperkirakan harga ayam masih berpotensi kembali meningkat. Salah satu penyebab utamanya adalah tersendatnya pasokan bibit ayam yang selama ini didatangkan dari luar Batam, khususnya dari Medan dan sejumlah daerah lain di Sumatra.
"Harga bibit mahal dan pasokannya tidak lancar. Bibit ayam ini sebagian besar didatangkan dari luar Batam," katanya.
Selain bibit, kenaikan harga pakan ayam turut menjadi faktor pendorong melonjaknya harga ayam di pasaran. Biaya produksi peternak meningkat akibat harga pakan yang terus naik, sehingga berdampak langsung pada harga jual ayam potong.
Ia juga menilai bencana alam yang melanda beberapa wilayah di Sumatra dalam dua pekan terakhir turut memengaruhi kelancaran distribusi bibit dan pakan ayam. "Distribusi terganggu, ongkos angkut naik, akhirnya harga ikut terdorong," jelasnya.
Situasi tersebut diperparah dengan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Nataru. Konsumsi daging ayam yang cenderung meningkat pada momen hari besar keagamaan membuat tekanan terhadap pasokan semakin tinggi.
Tak hanya ayam segar, harga ayam beku juga ikut mengalami kenaikan. Saat ini, ayam beku dijual di kisaran Rp40 ribu per kilogram, naik dari harga sebelumnya sekitar Rp35 ribu per kilogram. Ayam beku tersebut diketahui didatangkan dari Pulau Jawa.
"Ketika ayam segar mahal, konsumen beralih ke ayam beku. Permintaannya naik, otomatis harga ikut naik," kata Putra.
Sementara itu, harga ayam kampung masih bertahan di level tinggi. Ayam kampung ternak dijual sekitar Rp65 ribu per kilogram, sedangkan ayam kampung liar dibanderol lebih mahal, berkisar Rp85 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram, tergantung ukuran dan kualitas.
Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas bahan pokok lainnya, terutama sayuran. Salah seorang pedagang sayur, Ayong, mengungkapkan harga cabai merah segar kini mencapai Rp95 ribu per kilogram atau Rp10 ribu per ons.
"Cabai mahal karena pasokannya tidak lancar," ujarnya.
Selain cabai, harga sayuran hijau seperti bayam dan kangkung juga mengalami kenaikan, masing-masing dijual sekitar Rp18 ribu per kilogram.
"Hampir semua naik. Pasokan sering tersendat, ditambah curah hujan tinggi yang memengaruhi hasil panen petani lokal," kata Ayong.
Curah hujan yang cukup tinggi di Batam dinilai turut berdampak pada produksi sayuran lokal, sehingga pasokan ke pasar menjadi terbatas dan harga sulit dikendalikan.
Dampak kenaikan harga bahan pokok ini juga dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner. Ratna, pedagang nasi campur, mengaku harus memutar strategi agar usahanya tetap berjalan.
"Harga ayam dan bahan lainnya naik semua, tapi usaha harus tetap jalan," ujarnya.
Ia mengaku berupaya menjaga kualitas rasa dan porsi agar pelanggan tetap setia meski biaya produksi meningkat. "Rasa, kualitas, dan porsi harus tetap dijaga. Pelanggan tidak boleh kecewa," katanya.
Masyarakat berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk menjaga kelancaran distribusi serta stabilitas pasokan bahan pokok menjelang Nataru, agar lonjakan harga tidak semakin membebani daya beli warga.
Editor: Surya
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
