Logo

Cari berita

Cari artikel terbit. Mulai mengetik minimal dua karakter.

Peresmian Pusat Data JK6 Tegaskan Komitmen Indonesia Wujudkan Kedaulatan Digital

Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali

Kamis, 5 Juni 2025 08:48 WIB
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, saat peresmian pusat data berstandar internasional JK6 yang berlokasi di Cibitung, Bekasi, Selasa (3/6/2025). (Foto: Komdigi)
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, saat peresmian pusat data berstandar internasional JK6 yang berlokasi di Cibitung, Bekasi, Selasa (3/6/2025). (Foto: Komdigi)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Pemerintah memperkuat strategi kedaulatan digital nasional melalui peresmian pusat data berstandar internasional JK6 yang berlokasi di Cibitung, Bekasi, Selasa (3/6/2025). Fasilitas ini memiliki kapasitas 36 megawatt dan sepenuhnya dirancang serta dibangun oleh tenaga kerja Indonesia.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyebut pembangunan JK6 bukan sekadar pencapaian infrastruktur, melainkan simbol penguasaan bangsa terhadap teknologi strategis yang menjadi fondasi ekonomi digital nasional.

"Lebih dari 3 juta jam kerja dan hampir 8.000 pekerja lokal terlibat dalam pembangunan JK6. Ini membuktikan bahwa anak bangsa mampu membangun pusat data kelas dunia yang menjadi simpul kedaulatan data Indonesia," ujar Meutya, dalam sambutannya pada peluncuran JK6 Data Center di Gedung DCI Indonesia.

JK6 diklaim sebagai salah satu pusat data terbesar di Asia Tenggara dan akan berperan krusial dalam mendukung penyimpanan serta pengolahan data dari berbagai sektor strategis --termasuk pelayanan publik, industri nasional, hingga kecerdasan artifisial dan layanan digital.

"Ini bukan sekadar bangunan berisi server. Di baliknya ada semangat kolektif nasional yang mendorong transformasi digital Indonesia," tegas Meutya.

Menurut Meutya, keberadaan JK6 sejalan dengan empat pilar transformasi digital nasional: pembangunan infrastruktur dan spektrum, pengembangan talenta digital, penyediaan perangkat dan aplikasi, serta kebijakan digital yang kolaboratif dan adaptif.

Ia juga merujuk data GSMA 2024 yang memproyeksikan digitalisasi sektor-sektor prioritas seperti energi, pertanian, perikanan, dan kehutanan akan menghasilkan nilai tambah ekonomi hingga Rp 1.271 triliun pada 2029. Dalam konteks itu, pusat data menjadi tulang punggung yang menjamin keamanan dan efisiensi alur data digital.

"Setiap pemanfaatan teknologi bergantung pada infrastruktur data yang andal. Peran pusat data seperti JK6 menjadi sangat strategis untuk mendukung keberlanjutan ekonomi digital kita," jelasnya.

Meutya juga menyinggung semangat kejayaan Nusantara, dengan membandingkan penguasaan pusat data saat ini dengan sejarah kejayaan Sriwijaya dan Majapahit dalam ilmu pengetahuan dan teknologi produksi. "Kendali atas data dan informasi adalah bentuk baru dari penguasaan atas sumber daya. Pusat data kini menjadi simbol peradaban digital kita," katanya.

Menurut laporan KPMG, konsumsi layanan pusat data global diperkirakan meningkat dari 79 gigawatt pada 2023 menjadi 180 gigawatt pada 2030. Indonesia, kata Meutya, menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan tertinggi di Asia Pasifik, dengan peningkatan kapasitas pusat data nasional sebesar 66 persen dalam dua tahun terakhir.

"Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa Indonesia telah menjadi magnet digital global. Potensi pasar kita sangat besar, dan peran infrastruktur seperti JK6 akan sangat menentukan arah masa depan ekonomi digital nasional," pungkas Meutya Hafid.

Editor: Gokli

Bagikan:

Berita Lainnya

Belum ada berita lain untuk ditampilkan.

Berita Terbaru

Berita tidak ditemukan