Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
RI-Korsel Sepakat Kembangkan AI Berbasis Nilai Asia, Nezar Patria: Kami Tak Mau AI Lepas dari Akar Budaya
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Sabtu, 28 Juni 2025 11:28 WIB
BATAMTODAY.COM, Jakarta - Indonesia dan Korea Selatan sepakat memperkuat kerja sama dalam pengembangan kecerdasan artifisial (AI) berbasis nilai-nilai Asia, mencakup pengembangan talenta digital, infrastruktur, hingga tata kelola teknologi.
Kesepahaman itu tercapai dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Nezar Patria, dengan Prof Sang-Wook Yi, Ketua Divisi Etika dan Keamanan Komite Nasional Strategi AI Korea Selatan, di sela-sela UNESCO Global Forum on the Ethics of Artificial Intelligence di Bangkok, Kamis (26/6/2025).
"Indonesia memandang Korea Selatan sebagai mitra kunci dalam transformasi digital. Pengalaman Korea mengintegrasikan riset, etika, dan implementasi AI di berbagai sektor sangat relevan bagi strategi nasional kami," ujar Nezar Patria usai pertemuan, demikian dikutip laman Komdigi.
Prof Sang-Wook Yi mengungkapkan, Korea Selatan bahkan mengalokasikan 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB)-nya untuk pengembangan AI. Angka itu jauh melampaui rata-rata global dan menjadi bukti keseriusan Negeri Ginseng dalam memimpin inovasi teknologi.
"Kami juga tengah menyiapkan buku teks nasional mengenai AI yang akan selesai akhir tahun ini, agar literasi AI dapat ditanamkan sejak dini," kata Prof Yi yang juga Guru Besar Filsafat di Hanyang University.
Dalam diskusi tersebut, kedua belah pihak menilai pentingnya kolaborasi regional untuk menghadapi tantangan yang muncul akibat perkembangan AI, termasuk perbedaan dampak teknologi di setiap kawasan. Nezar menekankan perlunya mengarusutamakan nilai-nilai Asia, seperti gotong royong, penghormatan terhadap orang tua, dan keharmonisan sosial, agar model AI yang dikembangkan tidak terlepas dari akar budaya.
"Kami tidak mau AI menjadi produk yang asing dengan nilai-nilai lokal. Justru harus relevan dan kontekstual dengan budaya kita," tegas Nezar.
Indonesia juga memaparkan tantangan dalam menegakkan regulasi terhadap platform digital global, terutama terkait transparansi dan perlindungan data. Meski sudah memiliki instrumen hukum, pemerintah Indonesia masih menghadapi kendala memastikan kepatuhan perusahaan teknologi asing terhadap regulasi nasional.
Sementara dalam konteks pendidikan, baik Korea Selatan maupun Indonesia sepakat pentingnya menyeimbangkan pengajaran AI dengan pemahaman risiko etika yang menyertainya. "Menurut laporan OECD, belum ada bukti empiris kuat bahwa pembelajaran AI secara langsung meningkatkan kapabilitas belajar siswa. Oleh karena itu, perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap dampak AI dalam pendidikan," jelas Prof Yi.
Nezar menambahkan, Indonesia kini juga mendorong pengajaran AI dan coding di sekolah, namun menilai literasi kritis perlu diperkuat agar generasi muda memahami sisi positif sekaligus risiko AI.
Sebagai tindak lanjut, Prof. Yi diundang berkunjung ke Jakarta untuk berdialog langsung dengan para pengambil kebijakan. Pertemuan ditutup dengan komitmen memperluas kerja sama antaruniversitas, riset bersama, serta pengembangan kurikulum etika AI yang kontekstual.
"Inisiatif ASEAN untuk mengembangkan Large Language Model (ASEAN LLM) juga menjadi langkah strategis kolektif di kawasan, dan kami ingin memastikan AI masa depan bersifat inklusif, etis, dan kolaboratif," pungkas Nezar.
Editor: Gokli
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
