Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Tokoh Masyarakat Ingatkan Bupati Lingga Jangan Asal Ngomong Soal Kelapa Sawit
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Senin, 1 April 2019 15:06 WIB
BATAMTODAY.COM, Lingga -- Tokoh Pemuda Lingga, Zuhardi dan Tokoh Masyarakat Lingga Aziz Martindas mengingatkan Bupati Lingga Alias Wello agar tidak asal ngomong soal kelapa sawit, kalau tidak memiliki data dan fakta-fakta ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan.
Peringatan itu disampaikan Zuhardi, setelah membaca pernyataan Bupati Alias Wello di berbagai media siber yang menyatakan, bahwa perkebunanan sawit sangat rakus terhadap ketersedian air di dalam tanah.
"Bupati Lingga jangan asal ngomong soal kelapa sawit, karena saya sudah melakukan studi banding ke kawasan perkebunan kelapa sawit milik PT Surya Dumai di Kampar Provinsi Riau," tegasnya, Minggu (31/3/2019).
Baca: Masyarakat Lingga Studi Banding ke Kebun Sawit PT Surya Dumai di Kampar
Ditambahkan Zuhardi yang biasa disapa Zuai itu, dari sejumlah literatur yang dimilikinya, terdapat fakta ilmiah yang menyatakan sebaliknya. Yaitu, tidak benar pernyataan Bupati Lingga yang menyatakan, bahwa perkebunanan sawit sangat rakus terhadap ketersedian air di dalam tanah. Jika air dalam tanah terkuras habis, akan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Bukan malah menguntungkan, tapi nantinya bisa menyebabkan masyarakat semakin kesulitan.
Maka, lanjut Zuhardi mengutip pernyataan Bupati Lingga di sebuah media siber, kawasan hutan lindung yang merupakan daerah penyanggah air dan resapan air harus benar-benar dijaga dan steril dari berbagai kepentingan. Ini semua untuk hajat hidup masyarakat, sehingga stok air kita tetap tersedia.
Baca: Menko Darmin Pegang Studi Tentang Sawit dari IUCN
Menanggapi hal itu, Zuhardi mengungkapkan, dari studi banding yang dilakukannya bersama dengan sejumlah tokoh masyarakat dan perwakilan desa dari Kabupaten Lingga ke kawasan perkebunan kelapa sawit milik PT Surya Dumai di Kampar Provinsi Riau, Rabu 19 Desember 2018 lalu, tidak terbukti bahwa kelapa sawit itu rakus air. "Saya melihat sendiri, ada sungai yang airnya mengalir di dalam kebun kelapa sawiat milik PT Surya Dumai di Kampar," tegasnya.
Sementara itu, Tokoh Masyarakat Lingga Aziz Martindas yang juga Koordinator Studi Banding Masyarakat Lingga ke PT Surya Dumai di Kampar Provinsi Riau, Aziz Martindas menambahkan, pemikiran soal kekhawatiran ketersediaan air bagi masyarakat Lingga adalah pemikiran yang tidak mendasar dan menyesatkan.
"Apalagi, sesungguhnya sumber ketersediaan air bersih bukan di wilayah perkebunan kelapa sawit timur Pulau lingga, tetapi jauh dari lokasi perkebunan, di wilayah barat Pulau Lingga yaitu di daerah Pegunungan Daik Lingga," ujar Aziz Martindas.
Jadi, tambah Aziz, untuk apa kita berpikir ingin menjual sumber air bersih yang sesungguhnya sampai ke Batam dan Singapura, kalau pemimpinya punya pemikiran sedangkal dan senaif itu. "Mestinya, pemikiran pemimpin daerah harus lebih mengutamakan sumber air, yang katanya banyak itu, untuk dinikmati masyarakat sendiri, sebelum berpikir untuk menjual kepada masyarakat luar," tegasnya.
Selain itu, Aziz Martindas juga memiliki data hasil penelitian dan fakta ilmiah yang membantah pernyataan Bupati Lingga tersebut. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Divisi konservasi Tanah dan Air Fakultas Pertanian, IPB (Institus Pertanian Bogor), Dr. Ir. Dwi Putro Tejo Baskoro, M.Sc.Agr terungkap, bahwa logikanya, untuk melihat apakah tanaman rakus air atau tidak, tentu dengan melihat seberapa banyak air dibutuhkan oleh suatu tanaman untuk tumbuh dan berproduksi secara normal yang disebut sebagai kebutuhan air konsumptif tanaman.
Kebutuhan air konsumptif tanaman biasanya dilihat dari nilai evapotranspirasi yang mencerminkan jumlah air yang diserap tanaman untuk diuapkan melalui evaporasi dan transpirasi. Apakah tanaman kelapa sawit merupakan golongan tanaman dengan nilai evapotranspirasi tinggi?
Baca: Industri Sawit Berkontribusi Entaskan Kemiskinan
Dari penelitian Pasaribu selama 3 tahun di PPKS sub unit Kalianta Kabun Riau yang tertuang dalam Jurnal Ilmu Lingkungan (ISSN 1978-5283) berjudul, "Neraca air di Perkebunan Kelapa Sawit PPKS Sub Unit Kaliantas Kabun Riau" terbukti, bahwa evapotranspirasi di perkebunan kelapa sawit rata-rata 1.104,5 mm/tahun. "Berbagai penelitian menunjukkan bahwa nilai evapotranspirasi tanaman kelapa sawit berkisar antara 1100 – 1700 mm/tahun," ujar Aziz Martindas.
Aziz Martindas yang Caleg DPRD Kabupaten Lingga dari Partai Golkar itu juga menambahkan, penelitian yang dilakukan oleh
Tarigan, S.D tahun 2011 lalu dan diterbitkan di Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Volume 13. No 1 berjudul, "Neraca Air Lahan Gambut yang Ditanami Kelapa Sawit di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah", terungkap bahwa nilai evapotranspirasi kelapa sawit yang di tanam di lahan gambut di Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah selama 3 bulan (Juli-September) adalah sekitar 386 mm.
Sementara itu, lanjut Aziz Martindas, penelitian yang dilakukan oleh Taufik dan Siswoyo, tahun 2013 lalu, terungkap, bahwa evapotranspirasi yang terjadi di Perkebunan Kelapa Sawit Sub DAS Landak Kapuas sebesar 4.39 mm/hari atau setara dengan 1580 mm/tahun.
Kemudian, penelitian yang dilakukan oleh Harahap dan Darmosarkoro tahun 1999 lalu terungkap, bahwa kelapa sawit memerlukan air 1.500-1.700 mm per tahun untuk mencukupi kebutuhan pertumbuhan dan produksinya.
Nilai evapotranspirasi tersebut sebanding dengan nilai evapotranspirasi pada berbagai tanaman perkebunan yang dikembangkan pada daerah beriklim relative kering seperti tebu (1.000–1.500 mm per tahun dan pisang 700–1.700 mm per tahun dan lebih kecil dari nilai evapotranspirasi tanaman kelapa yang dilaporkan oleh Foale dan Harries (2011) yaitu sebesar 1980 mm/tahun bahkan jika dibandingkan dengan evapotranspirasi dari tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai berkisar 1.200 – 2.850 mm per tahun jika ditanam selama 3 musim tanam (setara 1 tahun).
Tanaman kehutanan yang berdaun kecil seperti lamtoro, akasia, dan sengon, bahkan mempunyai laju evapotranspirasi tahunan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelapa sawit, dengan nilai evapotranspirasi berturut-turut sekitar 3.000 mm/tahun, 2.400 mm/tahun, dan 2.300 mm/tahun (Coster, 1938).
Baca: Masyarakat Lingga Ingin Perkebunan Kelapa Sawit Segera Dibuka
Jadi, berdasarkan fakta-fakta ilmiah tersebut, terbukti bahwa kelapa sawit merupakan tanaman yang tidak rakus air, dibandingkan dengan tanaman lain lebih nyata. Jika tolok ukur yang digunakan adalah efisiensi penggunaan air. Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman yang sangat efisien dalam pemanfaatan air.
Argumentasinya adalah, untuk menghasilkan 1 giga joule bioenergi, tanaman kelapa sawit hanya membutuhkan sekitar 75 m3 air, jauh lebih rendah dari tanaman rapeseed (bahan baku minyak nabati paling dominan di Eropa) sebesar 184 m3 , kelapa 126 m3 , ubikayu 118 m3, jagung 105 m3, dan kedelai 100 m3 air.
Baca: Kelapa Sawit, Benarkah Rakus Air?
Sebenarnya, lanjut Aziz Martindas, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution telah menerima hasil studi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) perihal kelapa sawit. Hasil penelitian IUCN tersebut diserahkan Kepala Satgas Kelapa Sawit IUCN Erik Meijaard, Senin 4 Februari 2019 lalu.
Saat itu, Darmin Nasution mengatakan, "di tengah berbagai tantangan yang dihadapi oleh industri kelapa sawit, utamanya di Indonesia, fakta berbasis ilmiah seperti ini sangat diperlukan untuk memberikan pemahaman kepada publik, terkait pengembangan kelapa sawit di Indonesia," ujar Menko Darmin.
Maka, berdasarkan fakta-fakta ilmiah tersebut, Aziz Martindas sependapat dengan Zuhardi, mengingatkan kembali agar Bupati Lingga Alias Wello, tidak asal ngomong mengenai tanaman kelapa sawit. Apalagi, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) Dono Boestami mengungkapkan data, bahwa industri minyak sawit berkontribusi besar terhadap pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Sejak tahun 2000, industri sawit mendorong setidaknya 10 juta orang keluar dari garis kemiskinan, 1,3 juta di antaranya hidup di pedesaan. Dan kontribusi ekspor sawit bagi ekonomi RI tahun 2017 mencapai Rp 243 triliun. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan minyak dan gas serta pariwisata.
Editor: Yudha
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
