Logo

Cari berita

Cari artikel terbit. Mulai mengetik minimal dua karakter.

Warga Pertanyakan Kepedulian Lingkungan Pertamina Tanjunguban di Tengah Isu Limbah B3

Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali

Kamis, 23 Oktober 2025 09:48 WIB
Gambaran lokasi Pertamina Tanjunguban berdekatan dengan pemukiman warga. (Foto: Istimewa)
Gambaran lokasi Pertamina Tanjunguban berdekatan dengan pemukiman warga. (Foto: Istimewa)

BATAMTODAY.COM, Bintan - Keberadaan PT Pertamina Tanjunguban di Kabupaten Bintan kembali menjadi sorotan publik. Selain isu terkait penumpukan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di area operasionalnya, muncul pula pertanyaan soal sejauh mana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dijalankan untuk masyarakat dan lingkungan sekitar.

Tokoh masyarakat Bintan, Andi Masdar Paranrengi, menilai bahwa Pertamina sebagai perusahaan besar semestinya tidak hanya berfokus pada kegiatan bisnis, tetapi juga aktif menciptakan keseimbangan antara operasional, dampak sosial, dan kelestarian lingkungan.

"CSR merupakan wujud tanggung jawab sosial perusahaan yang mengintegrasikan kepedulian sosial dan lingkungan. Tujuannya agar perusahaan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta menjaga hubungan baik dengan semua pihak," ujarnya, Kamis (23/10/2025).

Menurut Andi Masdar, dengan jarak antara area Pertamina Tanjunguban dan permukiman warga yang hanya sekitar 500 meter, semestinya masyarakat sekitar sudah bisa merasakan manfaat dari program CSR perusahaan. Namun, hingga kini, kontribusi nyata Pertamina terhadap lingkungan sekitar dinilai masih minim.

Ia mengingatkan bahwa Pertamina Tanjunguban yang telah beroperasi sejak 1937, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, seharusnya memberikan dampak sosial yang besar --baik positif maupun negatif. Program kepedulian sosial yang berjalan dengan baik dapat memberi manfaat bagi warga, tetapi bila abai, risiko pencemaran lingkungan akan terus mengintai.

"Sejak tahun 2019, tidak terdengar lagi adanya proses pengangkutan limbah B3 dari area Pertamina Tanjunguban. Berdasarkan laporan hasil kunjungan Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saat itu, disebutkan ratusan ribu ton limbah B3 masih tersimpan di lokasi tersebut," ungkapnya.

Andi menjelaskan, kawasan Pertamina Tanjunguban bersifat tertutup untuk umum, sehingga masyarakat sulit memperoleh informasi mengenai kondisi lingkungan di dalam area perusahaan. Akibatnya, potensi ancaman pencemaran sulit diketahui publik.

"Selama para pimpinan Pertamina belum menunjukkan kepedulian nyata terhadap masyarakat sekitar, kondisi ini akan terus menimbulkan kekhawatiran," tambahnya.

Ia juga menyinggung insiden pecahnya salah satu tangki air di area Pertamina pada September 2024. Meskipun tidak berdampak langsung ke permukiman, kejadian itu menjadi peringatan akan potensi bahaya yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

"Bisa dibayangkan jika yang pecah adalah tangki berisi bahan bakar atau gas, dampaknya tentu luar biasa. Masyarakat sadar bahwa ancaman itu selalu ada, walau tidak ada yang menginginkan bencana," ujarnya.

Andi berharap, Pertamina Tanjunguban dapat lebih terbuka terhadap masyarakat dan menunjukkan tanggung jawab sosialnya secara nyata. "Jangan sampai keberadaan Pertamina hanya dianggap membawa dampak negatif. Sudah seharusnya manfaat positifnya bisa dirasakan tanpa masyarakat harus memintanya terlebih dahulu," pungkasnya.

Editor: Yudha

Bagikan:

Berita Lainnya

Belum ada berita lain untuk ditampilkan.

Berita Terbaru

Berita tidak ditemukan