Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Warga Tanjung Sengkuang Batam Keluhkan Krisis Air Bersih Berkepanjangan
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Rabu, 7 Januari 2026 15:28 WIB
BATAMTODAY.COM, Batam - Krisis air bersih di kawasan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, kian memprihatinkan. Pasokan air hanya mengalir beberapa jam pada dini hari dengan tekanan sangat rendah, sementara janji perbaikan dari pemerintah dan pengelola air dinilai belum memberikan solusi nyata bagi warga.
Seorang warga Tanjung Sengkuang, Abdi, menyampaikan kondisi tersebut telah berlangsung berbulan-bulan, bahkan lebih dari satu tahun. Menurutnya, air bersih hanya mengalir antara pukul 01.00 hingga 04.00 WIB dan itupun dengan debit yang sangat kecil.
"Bukan 10 hari, ini sudah berbulan-bulan. Air hidup paling jam satu malam sampai jam empat pagi, itupun kecil," ujar Abdi, Rabu (7/1/2026).
Abdi menjelaskan, krisis air bersih ini berdampak luas, khususnya di RW 01 yang meliputi RT 1, 2, 3, dan 5, serta RW 02 RT 1, 2, dan 3 Kelurahan Tanjung Sengkuang. Warga terpaksa menampung air pada malam hari, sementara sebagian lainnya bergantung pada suplai air tangki dari PT Air Batam Hilir (ABH) yang dinilai lambat dan tidak merata.
"Sering minta air tangki, tapi datangnya lama. Bahkan banyak warga yang tidak kebagian," katanya.
Ironisnya, persoalan air bersih ini telah tiga kali dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi III DPRD Batam. RDP terakhir digelar pada Senin (8/9/2025) dan dihadiri langsung Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. Namun, warga menilai hasilnya belum menyentuh akar persoalan.
"Datangnya air tangki malah membuat warga ribut. Itu bukan solusi," ungkap Abdi.
Keluhan serupa disampaikan Ulil Amri, warga Tanjung Sengkuang lainnya. Ia menyebut pasokan air di wilayahnya hanya mengalir sekitar tiga jam per hari dengan tekanan sangat rendah, dan kondisi tersebut telah berlangsung lebih dari satu tahun serta berdampak pada sekitar 1.500 kepala keluarga.
"Biasanya hidup jam dua pagi, jam lima subuh sudah mati. Itu pun kecil sekali. Sudah lebih dari satu tahun begini dan berdampak ke sekitar 1.500 KK," tegas Ulil dalam RDP.
Ulil juga menyoroti kebijakan solusi sementara berupa tandon dan air tangki yang dinilai justru menambah persoalan. Selain pasokannya tidak menentu, warga tetap dibebani tagihan air normal, bahkan terkadang lebih tinggi.
"Kami bayar air tetap normal, kadang lebih mahal, tapi air tidak jalan," ujarnya.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Batu Merah, Muhammad Yusuf, menilai dua kali RDP sebelumnya hanya berujung pada janji tanpa realisasi konkret. Ia menegaskan solusi berupa tandon dan lori air belum berjalan maksimal.
"Solusinya selalu tandon dan lori air, tapi tidak maksimal. Pesanan kadang baru datang berjam-jam kemudian, bahkan besoknya. Warga butuh kepastian, bukan janji," kata Yusuf.
Ia mendesak BP Batam dan PT Air Batam Hilir segera mengambil langkah nyata untuk menyelesaikan krisis air bersih yang telah lama dikeluhkan warga.
Krisis air ini juga berdampak pada sektor pendidikan. Seorang guru SMAN 14 Batam mengungkapkan sekitar 1.000 siswa dan tenaga pendidik terdampak akibat minimnya pasokan air bersih di sekolah. "Kami kesulitan, terutama saat waktu salat. Air hanya cukup sekitar tiga jam. Anak-anak terpaksa ke musala untuk berwudu," ungkapnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, dalam RDP memberikan ultimatum kepada PT Air Batam Hilir agar segera menuntaskan persoalan air bersih di Batu Merah dan Tanjung Sengkuang.
"Persoalan air ini masuk dalam 15 program prioritas unggulan Amsakar-Li Claudia. Saya tidak ingin masalah ini terus berlarut-larut," tegas Amsakar.
Meski demikian, warga menilai pernyataan tersebut belum cukup. Mereka menuntut tindakan konkret dan terukur, bukan sekadar janji di ruang rapat, mengingat air bersih merupakan kebutuhan dasar yang seharusnya dijamin bagi seluruh warga.
Editor: Gokli
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
